Pesan Shadiq kepada Generasi Muda Sumbar: Lamak dek Awak, Katuju dek Urang
Batusangkar, (09/1). M Shadiq Pasadigoe,
Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, menyampaikan pesan moral dan nilai
kearifan lokal kepada generasi muda di Batusangkar, Sumatra Barat (Sumbar)
dengan mengangkat filosofi Minangkabau 'Lamak dek awak, katuju dek urang'
(sesuatu yang enak atau baik bagi diri sendiri juga harus bisa diterima atau
enak bagi orang lain).
Pesan tersebut disampaikan sebagai
refleksi pengalaman hidup beliau, sekaligus respons atas kondisi musibah
bencana yang saat ini melanda sejumlah daerah di Sumatera Barat.
"Kehidupan bermasyarakat tidak
hanya berorientasi pada kepentingan pribadi, tetapi harus dilandasi kepedulian
terhadap perasaan dan kondisi orang lain," ungkap Shadiq, Jumat (9/1/2026).
Ditambahkannya, sesuatu yang dianggap
baik oleh diri sendiri idealnya juga dapat diterima dan membawa kebaikan bagi
lingkungan sekitar.
“Filosofi lamak dek awak, katuju dek
urang mengajarkan kita untuk menahan ego, menimbang setiap tindakan dengan
rasa, serta memastikan bahwa apa yang kita lakukan tidak melukai atau merugikan
orang lain,” ujarnya di
hadapan para pemuda.
Dijelaskan juga bahwa Anggota Komisi
XIII DPR RI itu, sikap tenggang rasa merupakan fondasi utama dalam membangun
keharmonisan sosial. Ketika seseorang mampu menempatkan dirinya pada posisi
orang lain, maka hubungan antarsesama akan terjalin secara tulus, rukun, dan
saling menguatkan.
Lebih lanjut, legislator NasDem dari
Dapil Sumbar I (Kabupaten Pesisir Selatan, Solok, Sijunjung, Tanah Datar,
Kepulauan Mentawai, Dharmasraya, Solok Selatan, Kota Padang, Kota Solok, Kota
Sawahlunto, dan Kota Padangpanjang) itu, juga mengaitkan nilai tersebut dengan
situasi musibah bencana yang tengah dihadapi masyarakat. Menurutnya, bencana
tidak hanya menguji ketahanan fisik dan infrastruktur, tetapi juga menguji
kepekaan hati, solidaritas sosial, dan rasa kemanusiaan.
“Di tengah bencana, masyarakat
membutuhkan empati, kepedulian, dan kebersamaan. Jangan sampai ucapan, sikap,
atau tindakan kita justru menambah beban dan luka bagi saudara-saudara kita
yang sedang tertimpa musibah,” tegasnya.
Diingatkan juga Olehnya, kepada generasi
muda untuk tetap menjaga etika sosial, tidak mudah menyebarkan informasi yang
belum jelas kebenarannya, tidak saling menyalahkan, serta mengedepankan
semangat gotong royong dalam membantu korban bencana.
Menurutnya, menjaga lisan, sikap, dan
perilaku di masa krisis merupakan wujud nyata penerapan nilai lamak dek awak,
katuju dek urang.
Dalam kesempatan tersebut, Shadiq
mengajak masyarakat untuk terus berbuat baik dengan penuh keikhlasan dan
kesungguhan. Ia menekankan bahwa kebaikan akan membentuk penilaian sosial yang
adil dan menjaga kepercayaan antarsesama.
“Jika kita terbiasa berbuat baik, ketika
memiliki kesalahan delapan, bisa saja yang terlihat oleh orang lain hanya
empat. Namun jika kita jarang berbuat baik, kesalahan yang hanya empat bisa
tampak menjadi delapan di mata masyarakat,” ungkapnya.
Menutup penyampaiannya, diharapkan oleh Shadiq,
nilai-nilai kearifan lokal, empati, dan solidaritas sosial tetap menjadi
pedoman generasi muda dalam menghadapi tantangan zaman, termasuk dalam situasi
darurat akibat bencana. Ia menekankan bahwa musibah seharusnya menjadi momentum
untuk memperkuat persaudaraan, kepedulian, dan semangat kebersamaan.
“Bencana boleh datang, tetapi nilai
kemanusiaan tidak boleh runtuh. Justru di saat seperti inilah karakter,
kepedulian, dan keikhlasan kita diuji,” pungkasnya. (JHL.948)